Categories
Business

Bocah Sukabumi Tewas, Viral Dugaan Ibu Tiri Paksa Anak Minum Air Panas — Polisi Tetap Dalami Fakta

Kasus tragis seorang bocah berusia 12 tahun bernama Nizam Syafei (NS) yang meninggal dunia setelah mengalami luka-luka di tubuhnya menjadi viral di media sosial setelah tersebarnya video dan pengakuan korban saat dirawat. Dalam video tersebut, Nizam sempat mengatakan bahwa dirinya dipaksa minum air panas oleh ibu tirinya sebelum akhirnya meninggal dunia di rumah sakit.

🧒 Kronologi Kejadian

Korban dibawa ke RSUD Jampang Kulon dalam kondisi kritis dengan luka bakar di sekujur tubuhnya serta tanda lebam yang mencurigakan. Ia kemudian meninggal dunia setelah dirawat sekitar 8 jam. Dalam kondisi lemah, Nizam sempat menyebut bahwa ibu tirinya, yang dikenal sebagai TR (46), menyuruhnya minum air panas.

Sebelumnya, ayah korban juga pernah melaporkan dugaan penganiayaan terhadap Nizam kepada polisi sebelum tragedi ini terjadi.

⚖️ Pernyataan Ibu Tiri

TR membantah seluruh tuduhan penganiayaan, termasuk paksaan minum air panas, dan menegaskan bahwa luka yang muncul pada tubuh Nizam justru disebabkan oleh masalah kesehatan, seperti leukemia atau autoimun, bukan tindakan kekerasan.

Melalui kuasa hukumnya, TR menyatakan bahwa kemungkinan besar dirinya tidak melakukan kekerasan tersebut dan berharap kasus ini tidak diperpanjang. Ia juga sempat menyinggung soal biaya pemakaman yang dianggap membebani dirinya.

👮 Penanganan Hukum & Reaksi Publik

Polisi setempat saat ini masih melakukan penyidikan dan menunggu hasil pemeriksaan forensik/ autopsi untuk menentukan penyebab pasti kematian NS serta tindak pidana yang terjadi. Aparat juga meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi tanpa fakta medis dan hasil penyelidikan yang jelas.

Kasus ini juga mendapat perhatian dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), yang mendorong proses penyelidikan dilakukan dengan teliti dan komprehensif agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Hingga kini, status ibu tiri masih dalam proses pemeriksaan, namun belum secara resmi ditetapkan sebagai tersangka sampai hasil autopsi dan bukti lengkap tersedia. Proses hukum masih berlangsung.

Polisi Dalami Hasil Autopsi dan Saksi

Penyidik Satreskrim Polres Sukabumi kini masih menunggu hasil resmi autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian korban. Tim forensik disebut telah mengumpulkan sejumlah sampel dan bukti medis guna memastikan apakah luka yang dialami korban akibat kekerasan fisik atau faktor medis tertentu.

Sejumlah saksi, termasuk pihak keluarga, tetangga, dan tenaga medis yang menangani korban saat dirawat di rumah sakit, telah dimintai keterangan. Polisi juga mendalami riwayat dugaan kekerasan sebelumnya yang sempat dilaporkan oleh ayah korban.

⚖️ Status Hukum Terduga

Hingga saat ini, terduga ibu tiri masih berstatus dalam pemeriksaan intensif. Aparat menegaskan bahwa penetapan tersangka akan dilakukan berdasarkan alat bukti yang cukup, termasuk hasil autopsi, visum, serta keterangan ahli.

Jika terbukti terjadi tindak pidana kekerasan terhadap anak yang menyebabkan kematian, pelaku dapat dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dan pasal penganiayaan berat yang mengakibatkan meninggal dunia, dengan ancaman hukuman berat.

🧠 Dugaan Faktor Medis

Pihak terduga melalui kuasa hukumnya tetap membantah adanya penganiayaan. Mereka menyebut korban memiliki riwayat penyakit serius yang diduga memicu kondisi luka pada tubuhnya. Namun, klaim tersebut masih akan diverifikasi melalui hasil pemeriksaan medis independen.

📣 Reaksi Publik dan Pemerhati Anak

Kasus ini memicu gelombang empati dan kemarahan publik di media sosial. Banyak warganet mendesak aparat bertindak transparan dan cepat. Sejumlah aktivis perlindungan anak juga meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan anak.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak disebut telah berkoordinasi dengan aparat daerah untuk memastikan proses hukum berjalan objektif serta memberikan pendampingan psikologis bagi keluarga korban.

Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Aparat meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak memperkeruh situasi. Semua pihak diminta menunggu hasil resmi penyidikan dan autopsi.

Categories
Business

Tentara Tuntut Keadilan atas Kematian Anaknya yang Dibunuh Secara Tragis

Seorang Tentara Tuntut Keadilan Usai Anaknya Dibunuh Secara Tragis
Seorang anggota TNI yang bertugas di satuan Tempur Nasional menggelar aksi emosional di depan Mapolres Jakarta Selatan, Senin (12/1/2026). Dengan seragam dinasnya masih dipakai, ia memegang foto anaknya yang tewas secara tragis sambil menyerukan tuntutan agar kasus tersebut segera diungkap secara tuntas.

Prajurit yang bernama Sertu Ardiansyah (42) itu hadir bersama keluarga besar, kerabat, dan sejumlah rekan seperjuangan. Tangis dan kesedihan tak mampu disembunyikan saat ia berulang-ulang menyampaikan permintaan agar aparat kepolisian menangkap dan menghukum pelaku pembunuhan terhadap putra semata wayangnya, Fauzan (15).

“Saya tidak ingin balas dendam… saya hanya ingin keadilan untuk anak saya, anak kandung saya yang tidak pernah menyakiti siapa pun,” ujar Ardiansyah dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. “Siapa pun pelakunya, saya berharap hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.”

Kronologi Tragedi
Menurut keterangan keluarga dan saksi, peristiwa tragis itu terjadi pada malam Minggu lalu di permukiman dekat Jalan Menteng, Jakarta Pusat. Fauzan ditemukan tewas di gang sempit dekat rumah dengan luka-luka yang mengarah pada kekerasan fisik yang parah. Warga sekitar menyatakan sempat mendengar suara ribut-ribut beberapa jam sebelumnya.

Keluarga segera melaporkan kejadian tersebut ke polisi pada dini hari, dan jenazah Fauzan dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan forensik. Hasil awal autopsi menunjukkan adanya sejumlah luka yang tidak wajar di tubuh remaja tersebut.

Respons Aparat Kepolisian
Kapolres Jakarta Selatan, AKBP Bayu Adi Prabowo, menyatakan bahwa pihaknya telah menetapkan tim khusus untuk menyelidiki kasus ini. “Kami sudah memeriksa beberapa saksi, mengumpulkan barang bukti, dan bekerja sama dengan tim forensik untuk memastikan penyebab kematian dan siapa saja yang terlibat,” jelasnya di hadapan media.

Pihak kepolisian belum mengumumkan tersangka. Namun Polres berjanji akan memberikan perkembangan kasus secara terbuka kepada publik.

“Tidak ada yang kebal hukum,” tegas AKBP Bayu. “Kami akan bekerja seadil-adilnya dan secepat mungkin untuk menjawab keresahan keluarga serta masyarakat.”

Dukungan dan Sorotan Publik

Kasus ini menarik simpati dari berbagai elemen masyarakat. Sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak kepolisian bekerja profesional tanpa tekanan atau campur tangan apapun.

“Saya turut berduka cita atas kehilangan keluarga ini. Negara harus hadir dan melindungi setiap warga negaranya, terutama anak-anak,” ujar seorang aktivis HAM yang hadir di lokasi aksi.

Pesan Sang Ayah

Di akhir konferensi pers spontan di halaman Mapolres, Ardiansyah kembali menegaskan bahwa ia hanya ingin proses hukum yang adil dan transparan. “Saya seorang tentara, saya tunduk pada aturan. Saya percaya keadilan akan terwujud. Jangan biarkan anak saya pergi sia-sia…”

Perkembangan Selanjutnya

Kepolisian berjanji akan membeberkan hasil penyelidikan dalam 7×24 jam mendatang, termasuk jika sudah ada penetapan tersangka. Sementara itu, pesan dukungan terus mengalir dari masyarakat melalui media sosial.